Selasa, 02 April 2013

PENALARAN DEDUKATIF


Pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulanatau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.
Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.
Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

1. Pengertian Penalaran
          Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Ada dua jenis metode dalam menalar yaitudeduktif dan induktif.

2. Penalaran Deduktif
· Pengertian Penalaran
Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status social.
· Macam-macam Penalaran Deduktif
Macam-macam penalaran deduktif diantaranya :
a. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.
b. Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.


   Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak langsung.

1     > Penarikan simpulan secara langsung
          Simpulan secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis. Premis yaitu prosisi            tempat menarik simpulan.
Simpulan secara langsung:

1    Semua S adalah P. (premis)Sebagian P adalah S. (simpulan)

Contoh:   Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
               Sebagian yang mempunyai rambut adalah manusia. (simpulan)

2       Semua S adalah P. (premis)
   Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)

  Contoh: Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
               Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)

3      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
  Semua S adalah tak-P. (simpulan)

  Contoh: Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
               Semua gajah adalah bukan jerapah. (simpulan)

4.      Semua S adalah P. (premis)
  Tidak satu-pun S adalah tak P. (simpulan)
  Tidak satu-pun tak P adalah S. (simpulan)

  Contoh: Semua kucing adalah berbulu. (premis)
               Tidak satu pun kucing adalah takberbulu. (simpulan)
               Tidak satupun yang takberbulu adalah kucing. (simpulan)

2    Penarikan simpulan secara tidak langsung
     Untuk penarikan simpulan secara tidak langsung diperlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis    tersebut akan menghasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Jenis penalaran deduksi dengan penarikan simpulan tidak langsung, yaitu:
1    Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi   (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). 
Contohnya:
-                 Premis1           :Semua manusia akan mati
Premis2           :Andi adalah manusia
Konkulsi          :Andi akan mati.

-                 Premis1           :Semua manusia bijaksana
Premis2           :Semua dosen adalah manusia
Konkulsi          :semua dosen bijaksana

Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara tidak langsung. Dan dapat dikatakan silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contohnya :
-                Premis1            :Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Premis2           :Pada malam hari tidak ada sinar matahari
Konkulsi          :Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis.

-                 Premis1           :  Semua ilmuwan adalah orang cerdas
Premis2           :Anto adalah seorang ilmuwan.
Konkulsi          : Anto adalah orang cerdas.

Intinya Silogisme dapat dijadikan entimen.
Sebaliknya, Entimen   juga dapat dijadikan Silogisme.

Jumat, 28 Desember 2012

NASIONALIS GUBERNUR JOKOWI-AHOK

        Keberanian Jokowi untuk memilih Ahok sebagai calon wakilnya di pilgub DKI sesungguhnya di luar kebiasaan seorang pemburu rente kekuasaan yang senang memilih zona aman untuk mendapatkan kekuasaan. Orang lebih senang memilih jalan short cut untuk mencapai tujuan, termasuk meraih kekuasaan. Logika inilah yang banyak dipraktekkan oleh pemburu kekuasaan dengan menjual isu primordialisme untuk mengkamuflasekan kapabilitas leadership dan manajerialnya. Dan tidak salah, di banyak daerah terbukti manjur.

        Namun jalan ini tidak dipilih oleh Jokowi. Dia lebih menyukai proses daripada hasil. Logika alaminya, proses yang baik akan menentukan kualitas hasil. Berbeda dengan orang yang berorientasi pada hasil, mereka sering melupakan proses, sehingga sering tidak mendapatkan pelajaran apa-apa. Kata bijak mengatakan bahwa “orang yang naik tahta dengan tanpa persiapan, dia akan turun dengan tanpa kehormatan”. Tidak sulit untuk membuktikan kalimat diatas, tinggal dilihat di buku notulen KPK, Kepolisian atau Kejaksaan, berapa pejabat yang sudah menjadi alumninya atau masuk dalam daftar waiting list-nya.
Pikiran Jokowi jauh melewati politisi dan “negarawan” negeri ini yang sering berpidato tentang “4 pilar negara”, kebhinekaan, pluralism, nasionalisme atau paham-paham kebangsaan yang lain. Seolah-olah ide-ide kebhinekaan, pluralism, nasionalisme melompat dari generasi Soekarno, Soepomo, Bung Hatta ke generasi Jokowi Ahok, tanpa menyisakan bekas-bekas di generasi perantara mereka. Di saat seorang mantan ketua lembaga tertinggi Negara, ketua umum parpol Islam dan juga sebagai pejabat negara masih terjebak dalam pemikiran primordialisme, Jokowi sudah mempraktekannya sepuluh tahun lalu, ketika menggandeng FX Rudi H. sebagai wakil walikota Solo. Inilah test case pertama Jokowi terhadap kedewasaan berbangsa dan bernegara yang diwariskan oleh founding fathers bangsa Indonesia, dan dia berhasil. Test case kedewasaan berbangsa dia lakukan untuk kedua kalinya, di Jakarta yang merupakan jantung pluralism di Indonesia, yang sekaligus berkumpulnya elit politisi, negarawan, pakar dan para ahli-ahli agama, ternyata resistensinya jauh melebihi dari Kota Solo.

         Untuk memilih calon wakilnya, Jokowi lebih memilih kualitas leadership dan integritas daripada label primordial yang melekat pada diri seseorang. Karenanya meskipun Ahok yang beretnis China dan beragama non-Islam, namun dia dengan mantap menggandengnya. Sebagai seorang muslim dan sudah menunaikan ibadah Haji, tentu Jokowi paham ajaran Islam, bisa membaca Qur’an dan Hadits. Di situlah letak keyakinan dia pada Tuhan, bahwa sekalipun dia memiliki wakil walikota non-islam keimanan dia tidak akan terpengaruh dan justeru menunjukkan romatisme kerukunan umat beragama. Jokowi yang islam tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk mengislamkan masyarakatnya yang non-islam, demikian juga FX Rudy H. tidak pernah menggunakan kekuasaanya untuk mengkristenkan umat islam.
Jokowi tak memiliki gairah untuk memperdebatkan soal keyakinan. Baginya menilai keimanan dan ketaqwaan seseorang adalah hak prerogative Tuhan. Oleh karena itu dia tidak peduli ketika banyak ustadz dan ahli agama yang senang mengkafirkan orang lain, bahkan saudara seimannya, seolah-olah merekalah pemegang kunci pintu sorga. Baginya, ketaqwaan harus menjelma dalam ruang social dan hadir dalam bentuk kesantunan, kejujuran, dan kesabaran. Pernahkah kita membaca berita bahwa Jokowi menfitnah atau menyerang pribadi lawan politiknya selama masa Pilkada DKI ? Padahal setiap hari dia diliput oleh media.
Keberanian menggandeng Ahok juga menunjukkan komitmennnya untuk mewujudkan pemerintahan yang lebih focus menjalankan visi dan misinya. Tidak sulit bagi PDIP, Gerindra atau Jokowi sendiri untuk mencari figure popular seperti purnawirawan TNI-Polri ataupun politisi senior. Namun kredibilitas Ahok dalam membangun prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparensi memberinya keyakinan bahwa roda pemerintahan akan kembali pada jalurnya. Duet Jokowi-Ahok sangat indah bagai pelangi, meskipun ia sering muncul setelah hujan bahkan badai halilintar. Anilah mimpi yang masih tersisa dan terus bermimpilah supaya esok kita masih punya pengharapan.

REFF:
http://politik.kompasiana.com/2012/08/13/ahok-adalah-kekuatan-jokowi-485081.html